Jor-Joran Belanja Buat Lebaran, Lumrah atau Salah Kaprah?

Salah satu pengunjung Metro Department Store Trans Studio Mall Cibubur, Depok, Jawa Barat memilih pakaian lebaran dalam gelaran ‘METRO Late Night Shopping’, Sabtu (8/4/2023). (CNBC Indonesia/Rindi Salsabilla)

Pengeluaran bulanan yang melonjak karena banyaknya agenda-agenda di Bulan Ramadhan, bisa saja menciptakan ketidakstabilan dalam pemasukan dan pengeluaran. Hal ini bisa berbuntut pada defisit arus kas bersih dalam sebulan, yang berpotensi menguras tabungan, apakah hal ini bisa dimaafkan?

Defisit arus kas bulanan terjadi di saat total pengeluaran Anda melebihi pemasukan. Anggap saja, dalam sebulan total pemasukan Anda adalah Rp 10 juta, dan jika pengeluaran Anda mencapai Rp 12 juta, maka akan ada defisit arus kas sebesar Rp 2 juta Rupiah.

Untuk mengatasi kelebihan pengeluaran ini, akan menyebabkan berkurangnya nilai tabungan Anda.

Pertanyaan pun muncul, apakah hal ini bisa dimaklumi karena pengeluaran setiap orang di Bulan Ramadhan akan meningkat? Dan adakah cara cerdas untuk mewaspadai lonjakan pengeluaran pribadi di bulan suci? Berikut adalah jawabannya.

Selama bersifat kebutuhan, masih bisa dimaklumi

Idealnya, sebagian besar pengeluaran yang harus dipenuhi adalah yang bersifat kewajiban dan kebutuhan, sementara itu sebagian kecilnya adalah yang bersifat keinginan.

Ketika itu yang terjadi pada pengeluaran Anda, maka negatif arus kas yang terjadi dalam keuangan kita masih bisa dimaklumi.

Bulan depan saat Anda menerima gaji, Anda bisa hidup sedikit lebih hemat lagi demi menjaga pengeluaran Anda. Hal itu bisa dilakukan dengan cara memangkas sekian persen pengeluaran Anda yang berkaitan dengan gaya hidup.

Namun jika sebaliknya, tentu saja hal itu menandakan Anda sudah terlalu berlebihan dalam memuaskan keinginan.

Pada bulan berikutnya, Anda pun dituntut untuk berpuasa untuk mengeluarkan uang demi keinginan, atau besar kemungkinan pula Anda harus mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan pokok.

Cara cerdas siasati lonjakan pengeluaran di Ramadhan

Mempersiapkan pengeluaran ini dengan menabung adalah salah satu cara yang paling efektif mewaspadai hal ini adalah dengan menabung jauh-jauh hari untuk kebutuhan Ramadhan.

Anda bisa mempersiapkannya enam bulan sebelum Ramadhan tiba, atau setahun sebelumnya bila perlu.

Anggap saja, setiap Ramadhan pengeluaran Anda akan bertambah menjadi Rp 15 juta. Maka dalam setahun, Anda bisa mengalokasikan uang sebesar Rp 1,25 juta untuk mengantisipasi hal ini.

Penghasilan tambahan tentu bisa membantu Anda dalam mengurangi beban finansial di Bulan Ramadhan. Karena dengan penghasilan tambahan, Anda bisa menabung uang dengan jumlah lebih besar untuk setiap bulannya.

Apa solusinya bila nabung Rp 1 juta sebulan saja susah?

Alokasikan saja uang semaksimal mungkin yang bisa Anda tabung setiap bulannya untuk kebutuhan ini. Jika memang Anda hanya bisa mengalokasikan sebut saja Rp 300 ribu sebulan, maka dalam setahun hanya akan ada Rp 3,6 juta yang terkumpul.

Anda pun memiliki dua pilihan, menggunakan uang THR untuk menambah kekurangan pengeluaran Hari Ramadhan, atau mengurangi pengeluaran Ramadhan dengan cermat.

Meski bisa digunakan untuk apa saja, ada baiknya uang THR dimanfaatkan juga untuk hal-hal yang produktif, sebut saja untuk meringankan beban utang Anda bila ada, menambah cadangan dana darurat, membayar zakat, membeli asuransi, dan investasi.

Adapun solusi yang bijak adalah dengan membatasi pengeluaran Ramadhan terlebih dulu, dan menggunakan sepersekian persen uang THR untuk menalangi kebutuhan Ramadhan Anda.

Anggap saja, Anda akan membatasi pengeluaran Ramadhan dengan jumlah 30% dari total gaji bulanan dan THR.

Jika dalam sebulan gaji Anda adalah Rp 10 juta, dan Anda akan menerima THR sekali gaji, maka total pengeluaran Ramadhan Anda adalah maksimal Rp 6 juta.

Jika ada kelebihan dana THR, Anda bisa mengalokasikannya ke hal-hal produktif yang disebutkan di atas.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*